..::Maro-Net::..

Suara Murni Rakyat Papua Selatan : Merauke…Mappi…Asmat…Boven Digoel…

Sekda Merauke : MIFEE Adalah Peluang Dari Fenomena Krisis Global

dengan satu komentar

Oleh : Maro-Net

Merauke, Maro-Net – Sekretaris Daerah Kabupaten Merauke, dr. Josef Rinta mengatakan, Program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE) adalah peluang dari fenomena krisis pangan global  untuk mewujudkan ‘feed Indonesia and feed the world’.

Hal tersebut disampaikan saat memperingati Hari Pangan Nasional (HPN) 2010 di Kampung Bokem, Distrik Rimba Jaya, Merauke, Selasa (9/11) kemarin.

“MIFEE ini adalah peluang dari fenomena krisis pangan global  untuk mewujudkan ‘feed Indonesia and feed the world’, di samping itu, tentunya ini jadi momentum bagi pembangunan Kawasan Timur Indonesia,” terang Rinta dalam acara yang dihadiri Staf Ahli Direktorat Jenderal Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian Suhartanto ini.

Menurut Rinta, pengembangan proyek MIFEE akan dilakukan bertahap, mulai dari pemanfaatan lahan potensial seluas 38.402 hektar, baru kemudian memasuki tahap pertama, yaitu membuka  hingga 423.000 hektar pada jangka pendek 2010 sampai 2014. Sedangkan untuk jangka menengah, periode 2015 hingga 2019, akan dibuka  632.000 hektar. Berikutnya dalam jangka panjang, yakni periode 2020 sampai 2030, akan dikembangkan lagi 227.000 hektar lahan pertanian, sehingga total mencapai 1,28 juta hektar kawasan MIFEE.

Proyek ini menjadi kontroversi karena data-data yang dikemukakan pemerintah selalu bertolak-belakang dengan fakta di lapangan. Beberapa investor MIFEE, diantara Medco Papua, telah menyerobot tanah ulayat masyarakat dan berhasil meminggirkan masyarakat setempat. Luas lahan yang telah dikapling dan dibagi-bagi diantara 36 investor adalah seluas 2,5 juta hektar, mencakup 16 dari total 20 distrik di Kab. Merauke dan 1 distrik masing-masing di Kab. Mappi dan Boven Digoel.

Sebuah kelompok perlawanan rakyat setempat, SORPATOM (Solidaritas Rakyat Papua Tolak MIFEE) menyebutkan, para pemilik ulayat kini mulai frustrasi setelah menyadari bahwa tanah pusaka  mereka telah hilang untuk selamanya karena telah dirampas oleh pemerintah dan investor. Pemilik ulayat dikabarkan ada yang telah melakukan bunuh diri.

“Sebanyak 10 orang di distrik Tubang dan 13 orang di distrik Okaba telah melakukan bunuh diri karena frustrasi terhadap penipuan pemerintah daerah dan investor, diantaranya dengan cara meminum racun akar tuba,” tulis SORPATOM dalam sebuah edaran mereka.

Ancaman lainnya adalah pemakaian pestisida dalam jumlah besar yang sangat beresiko merusak lingkungan dan menimbulkan berbagai jenis penyakit genetika seperti banyak terjadi di kawasan perkebunan skala besar di Amerika Latin.

MIFEE telah diresmikan oleh Menteri Pertanian Suswono pada tanggal 16 Agustus 2010 setelah sebelumnya dicanangkan secara resmi pada perayaan HUT kota Merauke ke 108 tanggal 12 Februari 2010 oleh Jhon Gluba Gebze (Bupati Merauke saat itu).

Proyek  MIFEE mencakup Pertanian Padi, Tebu, Jagung, Kedelai, Perkebunan Kelapa Sawit, Peternakan Sapi, Perikanan dan lain-lain yang  berorientasi ekspor,  akan melibatkan 36 investor dan sampai dengan saat ini, sebanyak 13 investor  telah beroperasi dengan investasi  sebesar Rp. 18, 186.715.000.000.

Proyek MIFEE sendiri merupakan jawaban terhadap krisis pangan dan energi yang melanda negara-negara imperialis, terutama Amerika Serikat (AS),  pada tahun 2008. Krisis ini kemudian memacu negara-negara imperialis untuk mulai mencari  wilayah baru untuk berinvestasi dalam bidang pangan dan energi.

Wilayah yang dicari tentu saja adalah wilayah yang tersedia lahan dalam jumlah besar dan pemerintahnya bisa didikte oleh negara-negara imperialis agar setiap keputusannya soal investasi harus mengorbankan rakyat setempat, tetapi memberikan keuntungan yang besar bagi investor, pemerintah setempat dan terutama sekali kepada negara-negara imperialis.

MIFEE sejatinya bukan untuk pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia, karena untuk pemenuhan pangan di Indonesia bisa diusahakan dari kekuatan petani sendiri.

“Program ini sebaiknya ditinjau ulang. Karena untuk pemenuhan pangan di Indonesia bisa diusahakan dari kekuatan petani sendiri, yang sampai saat ini menjadi tulang punggung pangan Indonesia,” kata M. Islah, Manager Kampanye Air dan Pangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Beberapa investor terlibat dalam program MIFEE di antaranya Wilmar, Sinar Mas, Bakrie Sumatera Plt, Medco, Bangun Cipta Sarana, dan Artha Graha.***

Satu Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. sekda, ko bicara kesehatan boleh klo tra pu background ttg pertanian itu tra usah ngomonglah. coba kam evaluasi program transmigrasi yg ada di mrk tu, apakah ada dampak terhadap rakyat papua. program pembodohan bahwa orang papua tra tau berkebun dan perampasan hak2 orang papua.
    lihat tu freeport, masyarakat pemilik hak ulayat hidup tdk seperti emas yg berkilau di atas tanah mereka.

    pedro

    6 Desember 2010 pada 5:56 am


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.